Selasa, 14 Februari 2017

Good Things Happen

Mungkin ini  cuma terjadi di negeriku. Namun mungkin juga ada di negeri lain. Atau bisa jadi di diri setiap orang tanpa mengenal batasan bernama Negara dan berbagai atribut lainnya. Ini adalah hal mengenai sebuah kebiasaan perilaku atau perkataan atau mungkin lebih tepatnya cara berpikir yang cukup sering kutemui di keseharianku. Ini tentang melihat hal baik dari sebuah kejadian buruk.

Pernahkah kamu mendengar, ada seseorang yang jatuh ketika mengendarai sepeda motor. Dia terjatuh ke pinggir dan menghantam aspal. Tangan kakinya penuh luka termasuk kepalanya. Ketika dia, keluarganya atau temannya atau hanya orang lewat yang kebetulan melihat atau menolong orang tersebut, mungkin ada diantara mereka yang berkata: untunglah kamu masih selamat. Atau untunglah kamu jatuh ke pinggir bukan tengah jalan. Untunglah ada orang yang cepat menolong. Untunglah tidak ada yang patah mematah. Untunglah lukanya tidak di seluruh badan, dst dst.

Atau pernakah kamu mengetahui, ada seorang teman yang membawa secangkir kopi untuk menemaninya lembur larut malam. Kopi tersebut ditaruh di atas meja di dekat berkas-berkas penting. Namun karena sedikit kurang fokus, tangannya tergelincir ketika mengangkat gelas ingin menyeruput kopi. Atau tanpa sengaja, cangkirnya terdorong dan jatuh ke bawah meja. Suara pecah belah si cangkir mengisi udara. Kopi yang masih tampak asapnya menggenangi lantai. Di sela-sela sumpah serapah yang dia lontarkan, ada dia berujar: tapi untunglah kopi ini tidak kena berkas kantorku. Untunglah anakku yang kecil sudah tidur jadi dia tidak main-main dekat beling cangkir ini. Untunglah kopi yang tumpah hanya secangkir bukan satu teko, dst dst.

Selalu ada “untung” di setiap kejadian buruk yang dialami. Dan kurasa ini memang hal yang baik. Tidak ada salahnya mencoba melihat ke sisi baik dari setiap kejadian untuk menenangkan syaraf. Untuk sedikit bersyukur kepada Tuhan bahwa sesuatu yang lebih buruk bisa saja terjadi. Hidup memang penuh dengan kemungkinan, bukan? Ada banyak peluang untuk suatu skenario terhadap akibat dari suatu hal yang menjadi kenyataan. Dan untunglah, beragam hal yang lebih buruk tidak terjadi kepada si Pengendara Motor yang jatuh dan si Tukang Lembur yang menumpahkan kopi tersebut.

Lalu aku pun berujar mengenai si “Untung”. Di saat kuhendak pulang kerja, menempuh jarak 20km lebih dengan mengendarai motor, ada macet panjang yang tak bisa kuhindari. Motorku dan motor lainnya termasuk juga mobil terjebak di lautan jalan yang sama dan kami hanya bisa merayap pelan. Kelelahan sehabis bekerja di tambah deru bising mesin kendaraan plus asap knalpot yang terhirup membuat suasana hati seseorag menjadi buruk. Belum lagi perihal waktu yang terbuang dan keinginan berkendara dengan lancar tanpa hambatan harus terkubur sementara waktu. Aku menghela napas dan sesuatu yang indah pun melintas.

Entah ini akhirnya menjadi ironi atau hal menarik, nun jauh di hadapanku melintas sesuatu yang besar namun tampak kecil karena jarak yang membentang diantara mataku dan objek tersebut. Sesuatu yang melintasi langit dengan sayapnya yang terbuat dari besi. Haha, yup, tiba-tiba melintas sebuah pesawat penumpang di langit sana. Ekor mataku mengikutinya hingga tak lagi terlihat. Sederhana tapi terasa manis. Hiburan kilat disela hiruk pikuk ini. Tidak ada hubungannya memang dengan kemacetan dan tidak juga membantu menyelesaikannya atau membantuku keluar dari kemacetan tersebut. It's all about perspective. Aku hanya tetap berujar: untunglah ada pesawat melintas sehingga pikiranku bisa teralihkan sejenak dari kemacetan ini. Haha, dasar tipikal anak 90’an. Suka gimana-gimana gitu jika melihat pesawat melintas di langit. :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Cari di sini