Sabtu, 27 Februari 2016

Prompt #7: Something you could do right now to get you closer to where you want to be in life


Hi, there, you meet me again! :D
Lagi-lagi cerita lama. Aku telat lagi menuliskan prompt ini. Entah karena apa prompt yang seharusnya dituliskan antara tanggal 15-21 Februari, akhirnya kutuliskan di tanggal 25. Dan baru ku-posting tanggal 27. Iya, sudah jatuh tempo. Sudah keluar dari deadline. Dan aku merasa sedikit menyesal karena pohon komitmen-ku belum tumbuh sempurna. Ah, oke, mungkin malah belum bertunas. Jadi, ya, bisa disimpulkan alasan keterlambatan ini datang dari dalam diri. Bukan karena alasan eksternal.

So what? Hmm, nothing.
Tidak ada yang dirugikan di sini, kecuali diri sendiri. Proyek menulis prompt ini juga proyek pribadi. Dan boleh jadi tidak ada yang menganggap proyek ini penting. Ini semua hanya tentang satu orang. Tentang diri sendiri. Ini bukan hal besar yang berdampak ke seluruh penduduk Bumi. Tidak. Dan, ya, aku lah yang bisa merasakan kepentingan di dalam menuliskan prompt tepat waktu. Aku yang insha Allah nantinya menuai manfaat dari kegiatan ini. Dan, ya, aku yang merasa menyesal karena terlambat, tidak sesuai deadline.

Lalu, apalah arti penyesalan? Hmm, artinya itu sebuah sinyal untuk berubah. Penyesalan adalah rasa tidak nyaman dan boleh jadi tidak disukai oleh semua orang. Dan aku melihat diriku sebagai pencari rasa damai, pencari ketenangan jiwa. Rasa menyesal menimbulkan efek yang sedikit mengacaukan ketenangan di dalam diri ini. Dan seharusnya aku menanggapi sinyal ini dengan lebih bijak.

Prompt ini mengajakku menulis tentang langkah apa yang bisa kulakukan untuk membawaku lebih dekat dengan apa yang kumau dalam hidup. Ada banyak yang aku mau, namun kali ini yang menjadi (salah satu) konsen terbesarku adalah berhenti melakukan sifat jelek yang kuceritakan di prompt sebelumnya (klik di sini my dear readers). Aku merasa jika aku bisa mengatasi dan keluar dari sifat tersebut, maka aku akan selangkah lebih dekat dengan rasa damai, rasa tenang. Dan perasaan itu adalah salah satu yang aku inginkan dari hidup ini.

Jika di prompt sebelumnya, aku masih berkutat dengan penyelesaian yang abstrak, kali ini aku melihat sebuah langkah yang lebih rill. Syukurlah, agaknya aku mendapat sedikit pencerahan, dan ada sebuah cara yang lebih pratikal.

Jadi begini, salah satu solusi abstrak yang kusebutkan sebelumnya adalah dengan menumbuhkan pohon komitmen. Nah, kali ini sepertinya pohon itu (dalam khayalku, belum kejadian) berhasil memecah tanah dan menumbuhkan sebuah tunas. Aku menemukan sebuah tunas di sana bernama “disiplin”. Aha! Tapi, tapi itu masih sedikit abstrak, maka aku sederhanakan lagi menjadi “rutinitas”. Dan, ya, mulai lah aku mendata alias membuat sebuah daftar (aku suka membuat list, haha) mengenai rutinitas baik yang bisa membantuku untuk melatih kedisiplinan guna menumbuhkan pohon komitmenku dan lalu menghancurkan sifat jelek tersebut yang akhirnya membawaku ke rasa damai.

Hehe, sudah ada beberapa rencana kegiatan rutin yang kucoba untuk lakukan. Aku merasa cara ini membawaku lebih dekat dengan salah satu tujuan hidupku. Mungkin ini sedikit lebih praktis. Atau,  ah, entah lah, entah pula malah aku yang terlalu repot dan berputar di tempat yang sama. Hmm, aku harap ada yang mengerti maksudku ini dan sependapat jika ini memang lebih praktis. Suatu cara atau sebuah latihan untuk mengurai benang kusut sifat jelek tersebut. Ya, mudah-mudahan. Hmm, :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Cari di sini